alterntif text

Vaksinasi dan Vaksin

PAEI.OR.ID – Vaksin berasal dari kata vacca yang berarti sapi. Kata vaccinia diartikan sebagai penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar.

Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau “liar”. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb).

Perkembangan  Vaksinasi

Di saat terjadi banyak pertentangan mengenai cara pengebalan tubuh dengan variolasi, pada abad ke-18, seorang mahasiswa kedokteran Inggris bernama Edward Jenner menemukan cara yang lebih aman untuk menanggulangi wabah penyakit cacar. Jenner muda ini mengamati bahwa di samping virus cacar yang menyerang manusia, terdapat jenis virus cacar lain yang menyerang ternak (kuda atau sapi). Dimana virus cacar sapi ini pun diketahui dapat menular pada manusia namun dengan gejala-gejala yang ringan. Ia pun mengamati bahwa para gadis pemerah susu yang pernah tertular cacar sapi ini ternyata  lolos dari serangan wabah cacar manusia yang mematikan. Kemudian ia melakukan penelitian dengan menularkan cacar sapi pada sekelompok orang, dan ternyata hipotesisnya teruji kebenarannya. Cara pemberian kekebalan yang ditemukan Jenner ini dinamakan vaksinasi. Vaksinasi berasal dari kata vacca  yang berarti sapi. Perbedaan konsep vaksinasi dengan variolasi terletak pada bahan yang sengaja ditularkan pada manusia. Vaksinasi ala Jenner ini menggunakan bahan yang mirip dengan organisme renik penyebab cacar pada manusia.

Vaksinasi kemudian berkembang lagi dengan ditemukannya bibit penyakit yang telah dilemahkan sebagai bahan pemberi kekebalan terhadap penyakit tersebut. Cara ini ditemukan oleh Louis Pasteur, seorang ahli mikrobiologi, secara tidak sengaja. Pasteur dan kawan-kawannya ingin memperoleh bibit penyakit yang dapat menimbulkan kekebalan namun memiliki resiko yang rendah bagi orang tersebut, yaitu bibit penyakit yang telah dilemahkan. Para ahli ini meneliti bibit penyakit kolera pada ayam (Pasteurella Aviseptica). Suatu ketika Pasteur pergi berlibur meninggalkan bibit penyakit kolera tersebut sehingga menjadi kurang perawatan, namun setelah pulang dari liburan tidak disangka bahwa bibit penyakit yang kurang perawatan tersebut menjadi lemah, karena tidak dapat lagi menimbulkan penyakit kolera pada ayam namun membuat ayam kebal terhadap serangan bibit penyakit yang masih ganas. Maka, vaksinasi ala Pasteur inilah yang kemudian berkembang luas hingga saat ini.

Menutup tahun-tahun pada abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 ditandai dengan munculnya achievements of great vaccine scientist seperti Pasteur. Sejak Jenner vaccinia 200 tahun yang lalu diperkenalkan, sembilan penyakit utama manusia telah dapat dikendalikan dengan penggunaan vaksin: smallpox (1798), rabies (1885), plague (1897), difteri (1923), pertusis (1926), tuberculosis/BCG (1927), tetanus (1927), dan yellow fever (1935). Beberapa vaksin digunakan secara individu di daerah dengan risiko penyakit seperti rabies dan plague, tetapi tidak pernah digunakan secara sistematis dalam skala global. Sementara BCG telah secara meluas digunakan untuk bayi-bayi, yang secara sukses dapat mencegah komplikasi seperti meningitis dan miliary tuberculosis.

Ada banyak informasi mengenai sejarah penggunaan vaksin yang telah dipublikasikan. Antara lain pada vaksin BCG pada tanggal 24 April 1927, dokter Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin berhasil menemukan vaksin untuk mengobati penyakit TBC, yang dinamakan vaksin bacillus calmette guerin (BCG). Penelitian mereka untuk menemukan vaksin itu telah dimulai sejak 1906 ketika Guerin menemukan bahwa ketahanan terhadap penyakit TBC berkaitan dengan adanya bakteri tubercle bacilli yang hidup di dalam darah.

Pada tahun 1921 mereka berhasil mengembangkan jenis basil yang tidak berbahaya bagi manusia. Setelah kedua peneliti berhasil menemukan vaksin BCG, vaksin ini diujicobakan kepada bayi-bayi di Paris. Namun, pada 1930 program vaksinasi BCG sempat menimbulkan bencana dengan meninggalnya sejumlah bayi di Jerman akibat TBC justru setelah mereka divaksin. Pada 1950 University Illinois di AS mendapat lisensi untuk memproduksi vaksin ini dan menjualnya di AS. Namun, karena pertentangan di masyarakat AS atas penggunaan vaksin BCG masih kuat, maka vaksin ini tidak digunakan secara rutin.

Vaksin cacar tidak dapat dipisahkan dari Edward Jenner (1749-1823). Jenner mendengar cerita bahwa jika seorang tertular cacar sapi yang sering terjadi pada pemerah sapi pada waktu itu, maka dia akan menjadi kebal dan terlindung dari penyakit cacar yang pada saat itu masih mewabah. Ia melakukan observasi sistematis dan melakukan eksperimen terhadap seorang anak. Jenner mengambil darah dari vesikel di tangan pemerah susu yang tertular cacar sapi, kemudian menginokulasi cairan tersebut pada dua irisan sepanjang 2,5 inci pada lengan anak tersebut. Enam minggu kemudian ia memvariolasi (memaparkan virus cacar dari penderita cacar ke manusia sehat) ke lengan anak tersebut dan tidak menunjukkan suatu reaksi.

Variolasi diulang beberapa bulan kemudian ternyata hasilnya tetap sama. Jenner menyusun tulisan ilmiahnya tentang kekebalan terhadap cacar pada manusia yang pernah tertular cacar sapi. Ia juga melakukan survei nasional yang mendukung teorinya. Sesudah penemuan Jenner diujicoba dan dikonfirmasi banyak ilmuwan lain, vaksinasi cacar mulai meluas di London untuk kemudian menyebar di Inggris, seluruh Eropa, dan dunia.

Pasteur (1885) memperkenalkan cara penanggulangan penyakit akibat gigitan tersangka rabies dengan menggunakan cara vaksinasi menggunakan vaksin anti rabies (VAR). VAR yang digunakan ini kemudian mengalami perkembangan berupa perbaikan, baik menyangkut substrat yang digunakan maupun yang menyangkut cara inaktivasi dari virus hasil panen. Ini sebagai usaha untuk mendapatkan vaksin yang lebih imunogenik dan lebih aman.

Seperti diketahui rabies adalah penyakit menular yang akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan virus RNA dari golongan famili Rhabdoviridae yang terdapat dalam air ludah dari hewan ataupun manusia yang menderita anjing gila. Virus yang bersifat neurotrop ini sebetulnya penyebab penyakit terutama pada hewan, namun dapat menular kepada manusia terutama melalui gigitan hewan.

Beberapa vaksin yang masih digunakan saat ini adalah vaksin yang perkembangannya sudah sangat tua, dan telah dikembangkan 50-80 tahun yang lalu dan hanya terdapat perubahan sedikit dari perkembangannya dari kurun setelah itu. Meskipun vaksin yang lebih baru telah berubah dari vaksin lama, konstruksinya tetap berdasarkan dari ekstrak larutan (suspension) bakterial atau viral. Beberapa vaksin yang dipasarkan pada saat ini masih menggunakan teknologi lama. Sebagai contoh difteri dan tetanus toxoid, whole cell pertusis vaccine, dan BCG.

Produksi dan metoda pengujian secara esensial relatif tidak pernah berubah dari saat mendapatkan lisensi. Vaksin viral hidup, seperti oral polio vaksin (OPV), masih digunakan diseluruh dunia kecuali di AS. Campak, dan vaksin yellow fever tidak pernah berubah dari sejak era 1960. Bahkan, vaksin yang relatif baru, yaitu vaksin recombinant hepatitis B, sudah berumur lebih dari 20 tahun. (Masdalina Pane)

 

Baca Jenis-jenis Vaksin