alterntif text
alterntif text

Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi

“Tanpa Imunisasi , rata rata 3 bayi dari 100 bayi lahir akan meninggal karena campak. Satu bayi lainya meninggal karena Tetanus dan satu lagi meninggal karena Batuk Rejan. Satu dari 200 bayi akan cacad karena Polio”. (UNESCO)

 

 

PAEI.OR.ID – Pada dasarnya semua penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisma dan virus dapat dicegah dengan pemberian vaksin (imunisasi). Namun tidak semua penyakit dapat dicegah dengan imunisasi secara efektif.  PD3I adalah penyakit infeksi yang dapat dicegah secara efektif dengan vaksin yang ada.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan strategi pencegahan penyakit dengan vaksin antara lain : Besaran Masalah, keganasanya (severity) melalui indikator “case fatality rate”, Adanya tekhnologi pembuatan vaksin, Efikasi, efektivitas, Efisiensi (cost effectiveness) dll.

Berbagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu Penyakit disebabkan virus dan bakteri. Kelompok penyakit disebabkan virus  misalnya Cacar, Campak, Polio, Hepatitis B, Hepatitis A, Influenza, Rabies Yellow fever. Kelompok penyakit disebabkan bakteri seperti, Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Tetanus, Tipus, Kolera, Meningitis meningokokus.

PD3I yang menjadi program prioritas pemerintah Indonesia dibagi dalam dua kelompok yaitu imunisasi dasar  dan imunisasi lain. Imunisasi dasar ditujukan terhadap penyakit   tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, dan hepatitis B. Sedangkan imunisasi lain sampai saat ini ditujukan terhadap meningitis meningokokus, Yellow fever, Rabies. Penentuan prioritas PD3I yang ditanggulangi melalui pemberian imunisasi dasar berdasarkan pertimbangan beban penyakit dan kemampuan keuangan Negara.

Program imunisasi Penyakit Cacar adalah sebagai contoh keberhasilan yang sangat efektif dan efisien dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Penyakit cacar  sudah dibasmi melalui program imunisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1963 – 1974. Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh WHO pada April 1974. Sedangkan dunia dinyatakan bebas cacar pada tahun 1978. Pada tahun 1980 imunisasi cacar dinyatakan tidak diperlukan lagi. Demikian juga penyakit campak pada tahun 1966 diseluruh dunia terdapat 135 juta kasus dengan kematian 6 juta  yang berkaitan dengan penyakit ini, dan berhasil diturunkan menjadi 400 ribu kematian pada tahun 2005. Pada tahun 2002, WHO mengestimasi 1.4 juta kematian anak usia < 5 tahun meninggal akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Dengan cakupan 100 % imunisasi dan 100 % efikasi vaksin, 1 dari 7 kematian (tanpa treatment) pada balita dapat dicegah. Lindungan (proteksi) vaksin memang tidak pernah mencapai 100 % berkisar antara 80 -95%.  Artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit-penyakit tersebut, tetapi kemungkinannya hanya 5 – 20 %, kalaupun terkena penyakit akan  jauh lebih ringan dan tidak berbahaya.

Sampai saat ini menurut data WHO sekitar 194 negara maju maupun negara yang sedang berkembang tetap melakukan imuniasi rutin pada bayi dan anak balitanya. Di Eropa imunisasi rutin dilakukan di 43 negara, Amerika 37 negara,  Australia dan sekitarnya 16 negara, Afrika di 53 negara, Asia 48 negara.

Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk mencegah penyebaran penyakit kepada anak di sekitarnya. Setiap tahun sekitar 85 -95 % bayi di negara-negara tersebut mendapat imunisasi rutin. Sedangkan sisanya belum terjangkau imunisasi karena menderita penyakit tertentu,  sulitnya akses terhadap layanan imunisasi, hambatan jarak, geografis, keamanan, sosial- ekonomi dan lain-lain.

Bayi Indonesia yang di imunisasi setiap tahun sekitar 90 % dari sekitar 4,5 juta bayi lahir. Masih ada hambatan geografis, jarak, jangkauan layanan, transportasi, ekonomi dll. Sehingga setiap tahun ada 10 % bayi (sekitar 450.000 bayi) yang  belum mendapat imunisasi, Akibatnya dalam 5 tahun diperkirakan 2 juta anak yang belum mendapat imunisai dasar lengkap. Balita yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap akan mudah tertular penyakit berbahaya tersebut dan akan sakit berat, meninggal atau cacat. Selain itu mereka  dapat menyebarkan penyakit tersebut kemana-mana bahkan sampai ke negara lain, seperti kasus polio yang cukup merepotkan dan menghebohkan seluruh dunia. (Masdalina Pane)

 

Baca Vaksinasi dan Vaksin dan Jenis-jenis Vaksin