Kulonprogro Bukan Daerah Endemis Antraks

Kulonprogro Bukan Daerah Endemis Antraks

PAEI.OR.ID – Tersiarnya dugaan penyakit antraks sejak akhir Desember 2016 hingga awal Januari 2017 yang menjangkiti 16 warga Kabupaten Kulonprogo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berawal dari seorang warga yang memeriksakan gejala penyakit kulit pada Puskesmas Girimulyo II. Gejala yang muncul adalah kulit yang merah, kering, menghitam, dan juga melepuh. Suspect ini masih diinvestigasi oleh Dinas

PAEI.OR.ID – Tersiarnya dugaan penyakit antraks sejak akhir Desember 2016 hingga awal Januari 2017 yang menjangkiti 16 warga Kabupaten Kulonprogo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berawal dari seorang warga yang memeriksakan gejala penyakit kulit pada Puskesmas Girimulyo II. Gejala yang muncul adalah kulit yang merah, kering, menghitam, dan juga melepuh.

Suspect ini masih diinvestigasi oleh Dinas Kesehatan. Belum diketahui pastinya bagaimana antraks bisa mewabah di Kulonprogo yang notabene bukan daerah endemis antraks. Dalam penyebarannya, daerah endemis antraks di Indonesia umumnya merupakan daerah penghasil livestock dari hewan ternak sapi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, yang terus diawasi dengan ketat sebagai antisipatif perkembangan penyakit antraks.

Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Kesehatan Bambang Haryatno, wilayah kerjanya memang bukan daerah endemis antraks. “Daerah kami memang bukan endemik, jadi tidak pernah ada kasus, baru kali ini,” ujarnya.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui laman website resminya menyatakan, “Saat ini, seluruh kasus sudah teratasi dan tidak ditemukan kasus baru antraks yang ditemukan (dilaporkan). Seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit di wilayah DI. Yogyakarta telah mampu menangani pasien dengan gejala antraks. Meskipun demikian, masyarakat harus meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan hewan ternak, serta tetap waspada dengan meningkatkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) agar terhindar dari risiko penyakit antraks. Sementara itu, specimen satu kasus suspect antraks meningitis di RSUP Sardjito, masih dalam konfirmasi di Laboratorium Badan Litbangkes Kemenkes untuk penegakkan diagnosis.” (http://www.depkes.go.id)

Ketua Tim Respons Cepat Waspada Antraks, Riris Andono Ahmad dari Uiversitas Gajah Mada menuturkan, “Antraks merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis dan ditularkan antar hewan atau dari hewan ke manusia (zoonosis). Penyakit itu, kata dia, dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Penularan antraks dari ternak ke manusia dapat melalui tiga cara, yakni melalui kulit, oral (pencernaan), dan pernapasan. Penularan melalui kulit bisa terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan spora bakteri antraks yang melekat pada kulit, daging, tulang, atau darah hewan ternak yang sakit. “Penularan melalui kulit bisa terjadi apabila kulit (manusia) sedang luka.”

Bakteri Bacillus Anthracis merupakan bakteri berbentuk batang, yang hidup dan berkembang biak di dalam tubuh hewan/manusia yang terinfeksi. Bakteri ini dapat membentuk spora apabila terkena oksigen dan dapat hidup di tanah sampai puluhan tahun.

Berdasarkan gambaran klinisnya, antraks pada manusia ada 4 bentuk yaitu antraks kulit, antraks saluran pencernaan, antraks paru-paru dan antraks meningitis. Antraks kulit yang paling sering terjadi, berobat jalan saja, kecuali ada infeksi lain. Antraks pencernaan umumnya terjadi karena memakan daging hewan yang terinfeksi antraks, tanpa dimasak sempurna. Sedangkan antraks paru-paru dan antraks meningitis sangat jarang terjadi.

Pada prinsipnya, mata rantai penyakit antraks dapat diputuskan melalui peningkatan kesehatan hewan ternak agar tidak membawa risiko penularan bagi manusia. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat agar terhindar dari resiko tertular penyakit antraks, antara lain:

  1. Membeli dan mengonsumsi daging yang disembelih di rumah potong hewan (RPH) resmi.
  2. Konsumsilah daging hewan yang sehat dan dimasak hingga matang sempurna.
  3. Selalu mencuci tangan dengan sabun setelah mengolah (memasak) produk hewan.
  4. Segera melapor ke petugas peternakan atau kesehatan hewan/Pusat Kesehatan Hewan apabila menemukan hewan ternak sakit atau mati mendadak.
  5. Tidak membawa hewan sakit keluar dari wilayahnya, agar tidak menyebarkan penyakit ke wilayah lain.
  6. Segera cuci tangan pakai sabun dan desinfektan bila secara tidak sengaja telah melakukan kontak dengan hewan sakit/mati.
  7. Tidak diperkenankan menyembelih apalagi mengonsumsi daging yang berasal dari hewan sakit (terutama bila hewan telah menunjukkan tanda terserang penyakit antraks).
  8. Apabila menemukan gejala antraks pada kulit yang khas berupa bengkak kemerahan yang terasa gatal, panas, dan di bagian tengah berwarna kehitaman, merasa mual, atau mengalami diare, diharapkan segera melapor ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

(ih/berbagai sumber)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *