Indonesia Butuh 568 Epidemiolog

Indonesia Butuh 568 Epidemiolog

Bandung, 1 Oktober 2014 – Berdasarkan wilayah geografis dan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 245 Juta, idealnya negara kita butuh 568 ahli epidemiologi dan 9.510 asisten ahli epidemiologi. Sementara kondisi sekarang baru ada 357 ahli epidemiologi di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup 1 ahli epidemiolog di setiap Kabupaten Kota, dan 1 orang asisten ahli epidemiologi

Bandung, 1 Oktober 2014 – Berdasarkan wilayah geografis dan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 245 Juta, idealnya negara kita butuh 568 ahli epidemiologi dan 9.510 asisten ahli epidemiologi. Sementara kondisi sekarang baru ada 357 ahli epidemiologi di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup 1 ahli epidemiolog di setiap Kabupaten Kota, dan 1 orang asisten ahli epidemiologi di setiap Puskesmas.

Demikian sambutan Menkes yang dibacakan Plt. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. Dr. Agus Purwadianto ketika membuka Pertemuan Ilmiah Epidemiologi Nasional ke-4 di Bandung, Jawa Barat (1/10). Pertemuan tahunan ini dihadiri lebih dari 300 mahasiswa calon epidemiolog serta alumni epidemiologi lapangan / Field Epidemiology Training Program (FETP).

Pada sambutannya, Menkes mengatakan, dalam dua dasawarsa terakhir ini Indonesia mengalami dua pandemi yaitu Pandemi Severe Accute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2002 dan Pandemi Influenza A (H1N1) tahun 2009. Selain merugikan secara  ekonomi juga merugikan nyawa manusia. Terkendalinya kedua pandemi tersebut berkat penerapan pendekatan epidemiologi di tingkat global, regional, nasional, dan lokal utamanya dalam melakukan pencegahan penularan atau pemutusan rantai penularan.

Oleh karena itu, kemampuan deteksi dini penyakit menular perlu dimiliki oleh setiap petugas epidemiologi pada setiap negara agar penyebaran penyakit menular yang berakibat terjadinya pandemi dapat dicegah. Kemampuan deteksi dini ini harus diiringi dengan kemampuan dalam  penerapan pendekatan epidemiologi.

Pendekatan Epidemiologi di Indonesia
Dalam Pembangunan Kesehatan di Tanah Air kita, pendekatan epidemiologi juga digunakan untuk mendeteksi dan menyelesaikan berbagai masalah kesehatan, seperti masalah peningkatan kejadian gizi buruk, keracunan makanan, kejadian kecelakaan, dan kejadian berbagai penyakit tidak menular termasuk  peningkatan kejadian gangguan jiwa,” jelas Menkes.

Kekuatan surveilans epidemiologi berbasis laboratorium di Indonesia telah mengantarkan beberapa sukses besar dalam Pengendalian Penyakit di Tanah Air kita. Pada tahun  2012, sebagian besar wilayah Indonesia sudah mencapai Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (kecuali di Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara).  Pada tahun 2014, Indonesia bersama seluruh negara anggota WHO di Asia Tenggara telah mencapai Eradikasi Polio. Sementara pada tahun 2014 lebih dari 200 kabupaten/kota di Indonesia  telah mencapai Eliminasi Malaria.

Pada kesempatan tersebut, Menkes menyampaikan harapannya kepada jajaran kesehatan, Persatuan Ahli Epidemiologi (PAEI), Perguruan Tinggi dan seluruh stakeholders untuk bersama-sama meningkatkan minat generasi muda dan perhatian masyarakat pada bidang epidemiologi; meningkatkan  jumlah dan kualitas tenaga epidemiolog; mengembangkan  kompetensi para epidemiolog agar semakin komprehensif, sehingga menumbuhkan pembidangan keahlian, baik yang terkait dengan penyakit, masalah kesehatan lainnya, maupun masalah sosial; mendorong agar data dan informasi yang ada benar-benar digunakan dalam pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan oleh pihak yang berwenang; serta mendorong  pelaksanaan surveilans epidemiologi  dengan tepat dan benar  di semua tingkat administrasi didukung oleh sumberdaya yang memadai.

Pertemuan ini melibatkan jejaring epidemiologi regional (South Asia Epidemiology Training and Network, ASEAN plus Three Field Epidemiology Training Network) dan Internasional (Global Alert Response, Training in Epidemiology and Public Health  International Network).

Kedepannya, pertemuan ini akan dikembangkan tidak hanya sebagai wadah pembelajaran bagi mahasiswa epidemiologi lapangan dan alumni, tetapi sebagai wadah pertemuan ilmiah ahli epidemiologi dan praktisi epidemiologi yang menghasilkan rekomendasi  bagi penyelesaian masalah kesehatan masyarakat strategis berbasis bukti ilmiah.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id.

Source: http://www.depkes.go.id/article/view/201410030002/indonesia-butuh-568-epidemiolog.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *