Epidemiolog Sebut Kematian Jateng Tinggi Imbas Faskes Kolaps

Epidemiolog Sebut Kematian Jateng Tinggi Imbas Faskes Kolaps

Jakarta, CNN Indonesia — Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Jawa Tengah (PAEI Jateng) mencermati lonjakan kasus kematian warga terpapar virus corona (covid-19) di Jateng beberapa pekan terakhir selaras dengan melonjaknya kasus konfirmasi positif covid-19 yang menyebabkan antrean warga di fasilitas kesehatan (faskes) tak terbendung.

Wakil Ketua PAEI Jateng Sayono menyebut munculnya mutasi virus SARS-CoV-2 yang sudah teridentifikasi di Jateng saat ini juga menjadi perhatian, sebab dinilai menjadi salah satu indikator meningkatnya warga yang terpapar covid-19 di Jateng.

“Banyak antre di IGD dan meninggal, itu mungkin cukup santer berita seperti itu, dan kenyataannya memang seperti itu. Yang terjadi lonjakan besar kemudian antrean mendapatkan pelayanan yang semestinya itu sangat-sangat cakupannya rendah. Sehingga di sinilah sebetulnya yang menjadikan mereka yang kondisinya berat tidak segera mendapatkan pelayanan yang tepat,” kata Sayono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/7).

Sayono menilai perbandingan kemampuan faskes dengan warga di Jateng dalam masa-masa normal sejatinya sudah seimbang, namun dengan ‘badai’ covid-19 yang disebut sebagai gelombang kedua pandemi di Indonesia ini, mau tidak mau faskes akan kolaps juga jika terus digeruduk pasien.

Apalagi sebagai upaya di hilir, penambahan kapasitas tempat tidur bisa saja terus ditambah, namun tentunya penambahan tenaga kesehatan harus dipertimbangkan. Mengingat saat ini banyak tenaga kesehatan yang terpapar covid-19. Untuk itu upaya di hilir harus bisa diperkuat kembali, terutama adanya faktor varian baru.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan per data 6 Juli 2021 mencatat 80 kasus varian B1617.2 Delta ditemukan di Jateng. Kemudian satu kasus varian B1351 Beta, dan satu kasus varian B117 Alfa. Varian Delta sendiri memang disebut memiliki tingkat penularan 5-8 kali lebih cepat dari varian sebelumnya.

“Dalam fenomena varian yang ada ini paling tidak secara subjektif, memang ada pergeseran dimana penularan itu lebih cepat terjadi dan gejalanya tidak klasik seperti yang sebelumnya,” kata dia.

Belum lagi, Sayono juga menilai di beberapa lingkup masyarakat umum pekerja informal, masih banyak yang belum menyerap informasi secara penuh. Biasanya mereka akan mendatangi faskes ketika gejala mereka sudah memburuk sehingga berpotensi besar berujung kematian.

Kondisi itu berbeda dengan warga yang berada di kelembagaan negeri, perusahaan swasta, dan sektor formal lainnya yang dipantau oleh Satgas masing-masing sektor. Sehingga apabila terpapar covid-19 dengan gejala ringan, mereka bisa diarahkan untuk isoman dan disuplai obat.

“Yang masyarakat umum misalnya pekerja bebas, ini memang agak sulit mengelola seperti itu. Sehingga kecepatan deteksi dini oleh keluarga dan mengakses faskes itu menjadi persoalan. Terlebih memiliki berbagai komorbid, jadi kalau yang tidak ada komorbid memang sejauh ini cepat pemulihannya,” ungkap Sayono.

Lebih lanjut, Sayono juga menilai bahwa upaya testing dan tracing di Jateng sejauh ini agak timpang. Artinya, upaya surveilans itu memang mudah dan banyak dilakukan di perkotaan, namun di lingkup pedesaan kurang terjangkau. Sementara mobilitas massa bisa terjadi kapan saja baik dari desa maupun kota.

Ia juga menyebut, Jateng telah menetapkan rasio penelusuran kontak 1:10. Artinya, apabila seorang dinyatakan terpapar covid-19, maka minimal 10 kontak erat pasien dalam kurun waktu sepekan terakhir wajib diperiksa juga.

Pun dengan kepatuhan masyarakat kala Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali. Ia menilai masyarakat di perkotaan memang cenderung patuh dalam mematuhi protokol kesehatan covid-19 dan membatasi mobilitas. Namun bagi warga di pedesaan, rasa-rasanya kepatuhan itu cukup rendah menurutnya.

“Di area perkotaan saya kira terlaksana dengan baik, tapi masalahnya kemudian masuk ke area pedesaan. Itu sulit melacak dan mungkin mengaksesnya,” pungkasnya.

Jateng dalam sepekan terakhir menjadi sorotan usai terus menyumbang kematian warga terpapar covid-19 tertinggi di Indonesia. Jateng tercatat terus mencetak jumlah penambahan kematian covid-19 tertinggi selama masa PPKM Darurat Jawa-Bali yang berlaku sejak 3 Juli 2021 lalu.

Jumlah kumulatif kematian covid-19 di Jateng selama lima hari PPKM Darurat bahkan melonjak sebanyak 98,2 persen atau nyaris dua kali lipat dari jumlah kumulatif kematian covid-19 di lima hari sebelum PPKM Darurat.

Pada periode 28 Juni-2 Juli Jateng mencatat jumlah kematian covid-19 sebanyak 595 kasus. Kemudian dalam kurun waktu 3-7 Juli, penambahan kematian kumulatif mencapai 1.167 kasus.

Pun kasus konfirmasi positif covid-19 di Jateng juga mengalami kenaikan jika dibandingkan antara lima hari sebelum PPKM Darurat dan lima hari setelahnya. Pada kurun waktu 28 Juni-2 Juli kasus kumulatif covid-19 mencapai 12.392 kasus, dan pada periode 3-7 Juli naik menjadi 17.497 kasus.

 

Sumber: CNN Indonesia

Lihat Juga

Gubernur Riau Apresiasi Ahli Epidemiologi Indonesia Bantu Pengendalian COVID-19

Gubernur Riau Apresiasi Ahli Epidemiologi Indonesia Bantu Pengendalian COVID-19

PEKANBARU – Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menghadiri pelantikan pengurus Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) cabang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.