alterntif text

Menghitung Faktor Resiko Difteri

Imunisasi Difteri.

PAEI JABAR – Dalam ilmu epidemiologi secara klasik dikenal dua faktor resiko yaitu Faktor Intrinsik dan Faktor Extrinsik. Faktor Intrinsik adalah faktor yang ada pada manusia baik yang dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh dari ibu sebagai ciri spesifik, termasuk kekebalan terhadap penyakit tertentu maupun kerentanan terhadap suatu penyakit. Faktor Intrinsik juga dapat diperoleh secara alami melalui interaksi dengan bibit penyakit, yaitu virus dan bakteri yang masuk kedalam tubuh yang kemudian merangsang tubuh manusia untuk membentuk antibodi sehingga terjadi kekebalan alami, terbentuknya kekebalan ini ditunjang oleh kondisi tubuh yang mampu membentuk kekebalan alami, faktor penunjang itu adalah termasuk salah satu Faktor Intrinsik yaitu status gizi seseorang. Adapun Faktor Intrinsik kekebalan terhadap penyakit bisa juga dilakukan secara buatan melalui program imunisasi, pemberian imunisasi adalah suatu cara merangsang kekebalan tubuh secara buatan terhadap beberapa jenis penyakit baik yang disebabkan oleh kuman bakterial maupun oleh virus. Dalam hal ini yang dibicarakan adalah kuman bakterial difteri. [Baca: Difteri (Diphtérite)]

Faktor Ektrinsik yang berpengaruh sangat kuat pada manusia adalah berbagai faktor diluar tubuh yang dapat menimbulkan infeksi maupun mencegah terjadinya infeksi penyakit pada manusia antara lain adalah:

  • Adanya sumber infeksi; sumber infeksi dalam hal ini adalah kuman difteri yang dibawa dalam tubuh orang yang sedang sakit maupun berada pada tubuh orang yang tidak sakit dlm hal ini sebagai carrier, dalam suasana Kejadian Luar Baisa (KLB) atau endemis tinggi dipastikan banyak sumber infeksi difteri disekeliling kita.
  • Faktor Ekstrinsik utama yang berpengaruh pada penyakit difteri adalah tersedianya vaksin difteri dan fasilitas pemberian vaksin dalam hal ini rantai dingin, dan sumberdaya operasional yang efektif dan berkelanjutan.
  • Keberadaan sumber sumber nutrisi yang terjangkau merupakan Faktor Extrinsik yang dapat menjamin kondisi nutrisi yang mendukung kekebalan alami maupun kekebalan buatan.

Faktor sosial ekonomi termasuk kepercayaan merupakan gabungan Faktor Intrinsik dan Faktor Extrinsik. Tingginya cakupan imunisasi difteri pada anak balita dan anak sekolah merupakan dua faktor yang sangat kuat untuk mencegah penularan penyakit difteri karena cakupan yang tinggi menyebabkan pengurangan keberadaan sumber infeksi dan meningkatnya anak atau orang yang kebal terhadap penyakit.

Kondisi cakupan imunisasi diatas 90% juga mencegah terjadinya infeksi pada anak dan orang yang tidak di imunisasi, hal inilah yang diharapkan karena diketahui ada beberapa gelintir anggota masyarakat yang menolak imunisasi, masalahnya ialah jika anak atau orang yang tidak pernah di imunisasi bertemu dengan orang yang membawa kuman difteri atau carrier maupun bertemu dengan orang yang sakit difteri maka mereka dengan segera terpapar dan dapat terjadi infeksi. Jika orang yang menolak imunisasi berada atau hidup diantara orang-orang yang sudah di imunisasi atau berada pada daerah dengan cakupan yang tinggi maka mereka berada pada zona aman. Sebaliknya jika mereka berada pada kelompok sesama orang yang menolak imunisasi maka mereka berada pada zona yang berbahaya yaitu dapat terkena infeksi penyakit difteri.

Masalah yang dihadapi oleh program pencegahan imunisasi sekarang ini adalah; masih adanya suber infeksi orang orang yang menjadi carier atau pembawa kuman yang tidak memperlihatkan gejala sakit. Adanya penderita diferi pada usia dewasa mungkin disebabkan oleh shifting atau pergeseran usia penderita akibat dari kekebalan buatan atau vaksinasi yang diperoleh dari program sebelumnya telah berhasil melindungi anak hingga usia tertentu, untuk itu perlu dilakukan pemberian imunisasi ulang pada anak sekolah.

Ditemukannya penderita difteri pada usia dewasa mungkinkah sebagai akibat rendahnya cakupan imunisasi difteri dimasa lalu? Masalahnya adalah catatan tentang cakupan imunisasi masa lalu maupun dokumen medis penderita tidak tersedia.

Tingginya kasus difteri pada wilayah perkotaan mungkin sebagai akibat dari kedua hal diatas dimana mereka yang rentan bertemu dengan karier yang berasal dari daerah bercakupan imunisasi rendah dimasa lalu.

Untuk mengendalikan tingginya kejadian penyakit difteri maka diusulkan agar setiap daerah melakukan penilaian terhadap faktor-faktor diatas. Jawa Barat menghadapi tantangan nyata karena mempunyai beberapa hot spot area yang sering timbul kejadian difteri. Mungkin rekomendasi diatas bisa menjadikan masukan dari PAEI Jabar.

 

Oleh: dr. Muhammad Asri, MPH